Thursday, 21 December 2017

BELATI DAN GALAKSI

Kucermati dan kuguratkan gambarmu menurut jiwa, raga dan rohku
Cerdas, pemecah hal ruwet, hangat dalam bercakap, terandalkan dalam bertindak
Dibalik sifat pemalu, tampak jelas bakat petualangmu
Acap abaikan kepentingan diri untuk memuaskan yang dicintai

Engkau energi, logam bermagnet, pusat segala daya tarik  
Diam saja disekitarmu adalah berkat luar biasa,
Menyeruput kopi disisimu adalah hadiah kiriman Santa
Menghembuskan asap rokok di sela-sela anak rambutmu adalah keindahan sempurna
Mencuri pandang senyummu adalah kejahilan dibawah sadar

Lakonmu lebih dari sekadar penghantar panas
Bahkan engkaulah panas, engkaulah energy, engkaulah api
Tempakan besi bulat menjadi belati
Tajam tanpa gerigi

Aku tahu, tak akan hasilkan hal yang luar biasa bila tancapnya ke bumi
Tidak akan ada maha karya bila belati terbungkus di sarung walau bermotif aneka rupa
Api itu harus bebas, panas itu harus lepas, berpijar kesemua arah 
Melewati batas kerapatan udara, menembus ufuk, melanglang angkasa raya
Menyapa Bima Sakti, Mata Hitam, Andromeda bahkan galaksi yang tak mampu diberi nama

Belati akan mampu merenggang, meruncing dan menjadi bentuk apa saja yang dituntut jagad raya
Menjadi galaksi pusar, lentikular, spiral berbatang, cincin, atau apa?
Sebutlah semau tata surya

Belati dan galaksi
Sakit dan cinta
Indah walau dapat yang mana saja

Akulah tanah, penghambat panas
Aku harus mundur untuk mampukan belati memanah
Jauh tinggi mencapai semua tiap gugus galaksi

Ada debar disini, entah sakit karena irisan belati
Atau bahagia lepas engkau pergi
Tapi aku tahu
Bilamana sakit dan bahagia mampu hadir dalam satu rasa
Disitulah hakekat cinta yang sesungguhnya
Beberapa bar di bawah cintaNya

____________________________________________________________
hennysembiring_pojok atas_kopi_rokok_21 Des 2017

Sumber foto:https://apod-id.com/luar-angkasa/obyek-hoag-galaksi-cincin-yang-aneh

Sunday, 3 December 2017

CINTA

Cinta
Kemarilah sebentar cinta…

Rasakan coba sayang…
alirannya bergerak pelan melalui benang-benang syaraf,
menembus butir lemak yang mungkin membuat jalannya terhambat

Rasakan coba cinta
Sepoi-sepoi desah nafasnya di ujung daun telinga
Bersenandung lirih tanpa nada, namun sarat makna
Bahkan penyair payah terjemahkannya

Tentang artimu cinta
Tentang nilaimu cinta
Tentang indahmu cinta

Hakekatnya
Harusnya
Semestinya

Cinta itu muda, liar, bebas penuh energi
Cinta itu manis, lembut, berbalut hormat
Cinta itu rendah hati, tahu diri, hamba Sang Khalik


December 2017 – for my princess

Saturday, 11 November 2017

DAWAI UNTUK MAY

Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk
Begitulah seharusnya kita May….

Kita benci matematika tetapi mampu kagum kepada Kurt Godel
Kita benci Hitler tetapi dia mampu jadi hantu blau tiap generasi tua muda
Kita sayang Michael Jackson dan mampu abaikan sisi negatifnya
Kita sayang Lady Diana dan mampu empathy atas cerita hidupnya

Usia menanjak, pengalaman memekat dan pengetahuan meluas-dalam
Ada untaian doa, dentingan takdir dan getaran pasrah
Pasrah saat fakta dan harapan tidak searah
Kita menangis, merintih dan menunduk malu atas kalah dan salah
Untuk kemudian kita duduk di titik nadir dan lirih menengadah
Ya Allah
Engkau, Mulialah

Lalu Dia memandang ke bawah
Kewajah polos, lugu dan lemah

SabdaNya, ya dan amin
Maka jadilah May

Lembut tuturmu, bersih hatimu
Sunggguh manis jiwamu, terang nian pribadimu
Paket dirimu edisi khusus dan terbatas
Selera dan karaktermu berkelas
Gerakmu sigap, tatapmu tajam, dan instingmu awas
Layaknya singa muda yang percaya diri dan tahu berbuat apa
Halus perasaanmu, tindakan kasihmu dan aksi sosialmu
Layaknya malaikat yang tertinggal di bumi
Singa muda dan malaikat
Paduan sempurna, maha karya Pencipta Jagat

May,
Elok rupamu mengikat hatiku
Ulah lucumu ceriakan mendungku
Riak cintamu taklukkan angkuhku
Sahajamu tumbuhkan harapku
Harap akan tunas baru

Aku sadar akan panjang, lebar dan tingginya cerita kita
Juga tahu kedalaman, kepekatan dan encernya
Kita paham temali ini longgar namun tetap terikat
Waktu kita terbatas tetapi selamanya
Rela melepaskan dan ikhlas menerima
Berlomba-lomba saling membahagiakan, ini cara kita
Kita pun sepakat untuk nol-kan masa lalu, kosongkan masa depan dan sejutakan hari ini
Jalani dan penuhi dengan tawa, cinta dan kasih
Abaikan waktu, dimensi, nilai dan dogma

Bila disuatu hari kelak, May berubah pikir dan haluan
May hendak mengarungi samudra raya baru
Maka bertolaklah dengan doa…
Bila suatu saat May siap terbang tinggi
Maka terbanglah setinggi-tingginya
Bila May memutuskan menetap di dermaga
Maka tinggallah dengan ucapan syukur saja

May,
Dawai ini dawai cinta
Senar ini senar sayang
Kadang perlu diulur dan kadang ditarik kencang
Seturut dengan nada, seirama dengan gaya

Seperti dirimu buatku dan diriku buatmu
Jiwa menari tanpa butuh arena dansa, tetap menyanyi tanpa perlu lirik kata
Hari ini milik kita

November 2017 - I will be happy to watch you fly high or even stay longer




Wednesday, 26 November 2014

AIR SUNGAI BULAN NOVEMBER

Berbicang iseng selayaknya bahan obrolan di meja makan adalah awal mula cerita panjang kita, lalu tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah rencana, petualangan penuh tantangan. Kau tawarkan aku terima tanpa mikir apalagi analisa. Rasa khawatir, takut dan grogi silih berganti menempati bilik hatiku, (entahlah dengan hatimu). Dan hari ke-26 itu pun tiba , November itu menyisakan hujannya, ujung tahun itu menorehkan makna, puri itu memberi warna, dan hanya ada satu kata, indah adanya. Berenang bersama, berharap air sungai akan lancar sepanjang November kita, membawa serta segala sampah-sampah didalamnya.

Titik-titik persinggahan, hari-hari pelabuhan, selalu saja menyenangkan. Dan kuduga (sepertinya sih ….) bukan masalah venue, cuaca atau topik pembicaraan, melainkan melulu karena kita sedang bersama. Tawa lepas, kerap ngakak tanpa norma gadis keraton. Memilih kata sekenanya tanpa memikirkan tata bahasa, atau kasar halus pilihan katanya. Semua menu terasa enak, pahit, manis, asam, tawar, matang, mentah atau apalah. Semua terjadi begitu alami dan sederhana. Sungai di dasar hati kita mendidih setiap hari, penuh energi, mengalir tanpa gangguan sampah. Sampah?

Oh kata ini menyapa alam bawah sadarku. Kukenal dirimu diujung waktu, di saat lahan hatimu telah terkavling-kavling, lalu mengasihimu tanpa tata karma, membangun asa tanpa logika bahkan mengingini utuh tanpa peduli kamu milik siapa. Nah, disini aku merasa diriku sebagai sampah, yang membuat kasih dan kebaikan tidak dapat mengalir lancar dalam tubuh dan jiwaku. Beberapa kali kita mencoba membahas sampai sungai keberapa kita harus berhenti – untuk berikrar lantang atau pun untuk akhiri perjalanan - kemudian kita memilih menggantung topik - karena rugi rasanya mengisi waktu bersama kita dengan teka-teki hidup tanpa jawab. Kita pun menyederhanakan sungai dan sampah tadi dengan kata “jalani saja”.

Tiap tahun mata hatiku mengingat hari ini sebagai hari keramat, dan tiap tahun pula dirimu memandangnya biasa-biasa saja. Pada menit-menit terakhir tanggal ini kuijinkan sebuah renungan memenuhi kepalaku, lalu mendesak otak dan hatiku untuk mengambil langkah. Bersih-bersih! Aku pun semakin sadar, kita berenang dalam wadah berbentuk lingkaran, tidak berujung. Zona nyaman yang semu, perenangan yang salah, peristirahatan fiktif. Aku tidak tahu apakah aku sudah siap keluar dari pesona  lingkaran ciptaan kita, tapi aku juga tahu aku harus melangkah untuk cari tahu jawabannya.

        /hms/sebuah catatan diujung senja, 26 November 2014.



Halmahera, 9 April 2008


Friday, 16 May 2014

KEBENARAN MUTLAK

Radha, oh Srimati Radharani
Telah kau sandingkan sungai Gangga dan Yamuna, mengitari pelataran cinta kita
Telah kau hardik para lebah, berhenti menggoda teratai agar kelopaknya tetap putih
Telah kau tanam tulasi, membuka pori-pori gairah para dewa
Oh kekasihku Radha…

Radha, Srimati Radharani
Panggil namaku dalam jiwamu, selembut seruling di kisi-kisi sepiku
Hembuskan nafasmu ditelingaku, laksana narwastu tercurah dari buli-buli tua
Tumpah semerbak, mewah tanpa kata
Begitupun sayangmu, cintamu dan artimu didenyut Krishna
Radha, kekasih Radha…

Biarkan sejarah mencatat dengan gaya pena para filsuf ternama
Akan nama Rukmini, Satyabama, Jambawati, Kalindi dan belasan ribu perempuan lainnya, sebutlah…
Biarkan para pemahat lihai membentuk rupamu dan rupaku menurut imajinasi mereka, lihatlah…
Atau penulis mengernyitkan dahi mereka untuk memberi nama hubungan kita
Kekasih utamakah?
Perempuan simpanankah?
Isteri kelas dua belaskah
…..atau apa saja seenak tinta menorehnya

Radha kekasihku Radha
Cinta kita tanpa nama
Sayang kita tiada status
Kasih kita tanpa harga

Radha kekasihku Radha
Didirimu, dihatimu dan dijiwamu
Kutemukan kebenaran mutlak!

(Bogor, 16 Mei 2014//Henny Sembiring; “Krishna-ku dalam hamparan bimbang”)




Thursday, 19 September 2013

Somewhere in Paradise


My dearest friend,
It’s September 19th again.
A special day to reminiscing on the past, remembering our chats, humming our songs and uttering a prayer.
A time to let the tears and raindrop run down on my cheek and feel its warmth.
A perfect fusion which garnish the white rose garden with joy and sorrow, black and white, bitter and sweet, cry and laugh.
A moment to splay my heart before God, letting He sees the pain and how it bleeds through its petal.

My sweet,
I always long to see your childish smile and miss you most for the stupid and funny things we’ve ever had.
And knowing this day is a day when you left those two beautiful girls…
And yes, somehow you left me too (oh God)
I wish….

Wishing I had been there to listen to your thoughts that you never revealed to them. 
Wishing I had been there to note your last wise words for our starlets. 
Wishing I had been there to hold you up, pacify your mind, kiss your ear and….
Whispering …..
‘God loves you. Please save the seats next to you for we’re coming home, soon’. 

My star,
I told God so today how I am so grateful for had had you
How you’d painted my soul, embellished my mind, engraved my days with precious memories…
How you’d had blessed me with tender smile and untold care.

This feeling will remain the same.
 The rose will stay still, white, soft and never withers away by the first or last breath.
(Oh, I have to admit it, how I am longing to hear your voice)
A time to talk…
Just me and you, somewhere in Paradise.
/hennysembiring/tribute to a star: 190909-190913


We miss you most at Christmas time...

Wednesday, 6 March 2013

SEPATU TANPA NOMOR



Apakah saksi atau pelaku, sungguh perannya masih kelabu
Dagunya terangkat ragu lalu tertunduk malu
Menancapkan mata kepada sepatu hitam
Oh bukan, itu abu-abu!
Bukan irisan mata gagal menentukan warna
Tapi waktu terlalu serakah mengaburkan pigmennya

Ada niat memberitakan kebohongan dan membangun ketegaran
Bersandiwara bahwa hidup adalah indah dan mudah
Bahwa airmata tidak berarti apa-apa
Saat bersanding dengan nikmat yang disajikan dunia
Bahkan surga kehilangan pesona 

Terantuk kakinya di pantai itu, punggungnya membungkuk…lalu jongkok malas
Tidak ada nafsu
Tidak ada kemauan menapak
Tidak ada harap bergerak!

Kemudian duduk membuang diri
Perlahan sekali diusapnya alas kaki
Sepatu abu-abu
Bisu...

Berkata lirih pada saksi, jauh dari sentuhan jiwa
Berbisik lemah pada pelaku, jauh dari ingin tahu
Berapa lamakah jatah hidup?

Ditariknya kaki kanan dari cengkeraman sepatu usang
Ditengoknya ke dalam, lalu meniup butir pasir yang memaksa masuk menghuni

Dihelanya nafas, tertarik berat dan enggan

Ditariknya kaki kiri untuk mendekat ke kaki kanan
Melongok sepatu, meniup lagi dan menghela nafas lebih dalam

Lalu tersenyum melemparkan mata mengikuti gerakan biduk tua di laut lepas
Entah sadar atau perlu
Atau sekadar lampiaskan duka kalbu

Silau mentari sore hentakkan lamunan, kembali memandang saksi
Sepintar apakah kulit itu menyimpan memori tentang pelaku aksi?
Sekuat apakah sol sepatu menahan kepahitan pemilik hati?
Sekeras apakah warna sepatu untuk merefleksikan kegundahan nurani?

Dibalikkannya sepatu itu
Mencari petunjuk kekuatan menampung memori
Tiada dia temukan apa-apa
Nomornya sirna, kadar garam air laut mengikisnya
Sepatu itu tanpa nomor dan butut rupanya!

 (hennysembiring: //ayat pasir dalam sepatu,  March 5th,  2013)

Kuta, Bali, 1st July, 2012